Kuda Bagi Masyarakat Tengger
Gunung Bromo dan sekitarnya identik dengan lautan pasir. Dari Gunung Penanjakan bisa melihat lukisan agung dengan obyek Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru dan dikelilingi lautan pasir.
Hasil proses vulkanologi ratusan tahun lalu menciptakan efek panorama indah dan eksotis di Gunung Bromo dan sekitarnya. Masyarakat Tengger mendiami daerah pemukiman di sekitar Gunung Bromo, seperti di Desa Ngadisari, Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Mobil hartop dan kuda menjadi ciri khas dan banyak ditemui. Sebagai alat transportasi disediakan bagi pengunjung yang datang ke Gunung Bromo. Hartop bisa ditemui sejak di Cemoro Lawang dan Wonokitri, gerbang masuk Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS). Puluhan hartop ditawarkan dengan harga berkisar 350 ribu untuk mengantar ke Gunung Penanjakan sampai turun membelah lautan pasir ke areal parkir di Gunung Bromo.
Dari areal parkir, mobil tidak diperbolehkan masuk sampai mendekat di kaki Gunung Bromo dan Pura Luhur Poten Gunung Bromo, tempat ibadah umat Hindu masyarakat Tengger. Sebagai gantinya, kuda menjadi alternatif untuk mengantar pengunjung ke kaki Gunung Bromo. Dengan biaya berkisar 40 ribu rupiah, pengunjung bisa menikmati perjalanan dari areal parkir sampai ke kaki Gunung Bromo pulang pergi dengan menggunakan kuda.
Kuda bagi masyarakat Tengger adalah sistem tata nilai adat yang sudah turun menurun sejak lama. Dalam surat kabar Kompas, 29 Oktober 2004, Prof Dr Simanhadi Widyaprakosa, peneliti masyarakat indigenous (suku asli) di Tengger mengatakan bahwa kuda adalah perangkat instrumental dalam sistem kebudayaan Tengger. Dulu kuda berfungsi sebagai alat angkut beban, dimuati sayur-sayuran petani Tengger lantaran ekosistem tegalnya berjarak dalam kilometer dari lokasi rumah petani.
Namun, sekarang kuda sebagai alat angkut hasil pertanian telah tergantikan perannya dengan mobil hartop. Bahkan secara nilai ekonomis, kuda harus bersaing dengan kendaraan hartop untuk mengangkut wisatawan di Gunung Bromo.
Meskipun kuda di Tengger mempunyai makna ekonomis. Namun masyarakat Tengger tidak terlalu mengeksploitasinya. Kuda bagi masyarakat Tengger adalah soal jodoh atau tidak. Sebagai bagian dari tata kebudayaan di Tengger, jual beli kuda sering kali dilakukan. Kekuatan fisik tidak terlalu menjadi patokan, yang penting adalah jodoh dengan pembelinya.
Pada kesempatan lain, di Pasar baru Porong akhir tahun 2007. Paring W. Utomo yang pernah melakukan penelitian agama-agama dalam sejarah Masyarakat Tengger mengatakan bahwa kuda perannya sebagai alat angkut pertanian bisa tergantikan dengan roda empat, tetapi bagi warga Masyarakat Tengger nilai universal kebudayaan sesungguhnya tidak pernah berubah.
- Uncategorized | Time: 16:46 (UTC+8)




ooo… dasar jaran!
Comment by dudi — June 23, 2008 @ 07:42
kuda emang masalah jodoh im, sesuatu seng ditumpaki iku emang masalah jodoh im
Comment by uconk — June 24, 2008 @ 07:12
Dudi
Hai Jaran :p
uconk
oooo ngono yo kekekek
Comment by roim — June 24, 2008 @ 19:09
Iku model sing ndek foto paling duwur iku sopo yo… (sing karo jaran putih..)
Kok koyo Ngambab Ghro ya..
Comment by iwansetya — August 21, 2008 @ 05:17
iwansetya
hahahha nom nomane bambang ghro
Comment by roim — August 29, 2008 @ 07:25