September 17, 2006

Dulah bukan orang Miskin

Sebutlah Dulah meski bukan nama aslinya, memiliki satu istri dan dua anak yang usianya masih kecil. Lengkap rasanya bentuk kebahagiaan yang dimiliki oleh Dulah. Bekerja sebagai office boy pada suatu perusahaan swasta di Kota Makassar. Ibukota propinsi Sulawesi Selatan mulai berkembang pesat. Bangunan pertokoan mulai bermunculan di pinggir jalan-jalan.

Hidupnya dilalui dengan rutinitas yang konstan. Pagi saat matahari baru menampakkan cahaya, Dulah sudah bekutat dengan pakaian kotor yang dicucinya. Sementara sang istri sibuk menanak nasi dan membersihkan rumah. Dua anak karunia Tuhan tampak masih terlelap manis di kasur. Pukul 7 pagi harus sudah ada di kantor, membersihkan setiap ruangan agar tampak tetap nyaman.

Saat pagi, karyawan mulai berdatangan dan Dulah pasti mengumbar senyum, menyapa sambil menanyakan hidangan minuman sesuai dengan permintaan. Mas Dul … kopi kental gak pakai gula teriak satu orang karyawan penggemar kopi bikinan Dulah.

Mulai jam 7 pagi sampai teng jam 5 sore tiada henti melayani semua karyawan. Hampir tidak ada waktu istirahat sejenak. Mulai dari menerima tamu, menyediakan minuman, membelikan makanan, disuruh fotocopy bahkan sampai mengambil uang di bank. Dan semua itu Dulah kerjakan dengan senang hati.

Jam 11.30, Dulah mulai keliling menghampiri setiap meja sambil membawa kertas bekas dan pensil. Mencatat satu persatu pesanan makan siang. Tidak semua orang memberikan uang pas sesuai dengan makanan yang dipesan. Selesai beli makananu, uang kembalian pun disampaikan dengan pas sesuai pesanan.

Bagaimana dengan jam pulang ? yup … Dulah pulang dari kantor gelombang terakhir, artinya bukan jam 5 tetapi jam 6 malam baru bisa pulang. Yang pasti setelah kondisi kantor sudah terlihat rapi. Tidak ada kertas berserakan, tidak ada gelas kotor di atas meja. Kalaupun ada yang ngelembur, sebelum pulang Dulah pasti menawarkan makanan atau minuman kepada mereka.

Hari demi hari dilalui Dulah untuk memberikan pelayanan. Tiga hari ini Dulah tidak masuk kerja. Ruangan kecil tempat Dulah biasa kerja yang disebut pantry kelihatan kosong tapi semrawut. Gelas, piring, ceceran makanan ada dimana-mana. Tidak ada yang memfotocopy dokumen, tidak ada yang menbuatkan minuman, tidak ada yang disuruh ke bank, tidak ada yang dimintai tolong untuk mengambilkan kertas, atau teman bicara dan curhat di pantry. Intinya kondisi kantor bingung kalang kabut.

Anehnya, semua karyawan tidak ada yang mengetahui kondisi Dulah. Tidak ada yang tahu dimana rumahnya. Mungkin ini salah satu ciri masyarakat yang dikatakan modern. Kehidupan metropolis yang individualis. Dulah sedang di rumah, menemani istrinya yang sakit keras. Merawat istri dan kedua anaknya, mencuci pakaian, membersihkan rumah kontrakan.

Sudah tiga hari sakit istri Dulah tidak kunjung sembuh, obat flu yang dibeli di warung rupanya kurang manjur. Oleh tetangganya disarankan agar istri Dulah dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Dengan diantar Ketua RT yang baik hati, Dulah membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa. Opname, rawat inap begitu anjuran dokter yang memeriksanya.

Karena tidak memiliki biaya, Dulah disarankan untuk mengurus kartu miskin agar istrinya bisa tetap dirawat. Dua hari, Dulah mondar mandir untuk mengurus kartu miskin. Kartu miskin ini merupakan program pemerintah melalui Departemen Kesehatan sebagai bentuk penyaluran dana kompensasi bahan bakar minyak (BBM). Ternyata kartu miskin yang sangat diharapkan oleh Dulah belum bisa keluar. Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Dulah hilang entah kemana. Sebelum mendapatkan status miskin, Dulah harus mengurus KTP terlebih dahulu.

Biaya harus dikeluarkan jika KTP ingin sehari jadi. Untuk menjadi miskin ternyata tidak segampang yang saya bayangkan. Untuk menjadi miskin ternyata susah. Untuk menjadi miskin ternyata masih memerlukan biaya. Aneh … tatanan negara ini sudah aneh. Dulah memang miskin materi, tetapi Dulah adalah cermin manusia yang kaya akan kasih sayang, kesabaran.

7 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kosong.blogsome.com/2006/09/17/dulah-bukan-orang-miskin/trackback/

  1. Kekayaan hati mungkin lebih menyejukkan daripada kekayaan materi …

    Comment by Indra Wahyudi — September 18, 2006 @ 11:39

  2. tulisan sendiri bos? keren euy. sangat menggugah!

    Comment by dudi — September 30, 2006 @ 11:37

  3. well, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, setiap pagi gue dateng ke kantor jam 6.30. gue bisa memahami arti tulisan ini. I don’t know u but i think this writing is fascinating.

    Comment by blue — October 5, 2006 @ 01:15

    1. trims ndra … bener ndra …
    2. dudi tergugah? ... orisinil kok dud …
    3. thanks blue

    Comment by roim — October 6, 2006 @ 09:07

  4. Test…tist…

    hehehe tas nemu :D

    Comment by Epat — October 6, 2006 @ 12:05

  5. kasihan dulah yg miskin…
    tapi lebih kasihan yg baca ini..gak tau kelanjutan ceritanya…
    bagaimana nasib istri dulah..live or death

    www.smeckmania.com

    Comment by wak laboe — November 1, 2006 @ 16:40

    1. epat … nemu ae ente iki … mesti nemune ambek nggliyeng2

    2. wak laboe, teriring doa buat dulah sekeluarga, meski terlupakan mereka masih mampu hidup dengan survive. gimana kabar medan … horas

    Comment by roim — November 3, 2006 @ 07:54

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>