Penggusuran Tenda karena Kunjungan Presiden

Semilir angin laut memasuki ruangan yang tak berbatas diantara tonggak-tonggak bangunan menggerak-gerakkan sajadah. Suara desir air laut terdengar jelas saat gemercik percikan air laut menghantam karang. Dua irama alam itu mengiringi suara sang imam yang memimpin sholat tarawih di dalam Masjid Baiturrahim Ule Lheue bulan ramadhan kemarin.
Ada tarikan magnet tersendiri saat melihat aura masjid yang masih berdiri itu. Seakan ada lapisan yang mampu melindungi dan menghadang hantaman besar dari gelombang tsunami setahun yang lalu. Di tepi pantai tepat berbatasan dengan air laut di Dusun Tenggiri Desa Ule Lheue Kecamatan Meuraxa Banda Aceh berdiri Masjid Baiturrahim. Dari Uiong 4 km masuk ke arah tenggara menyusuri Jalan Iskandar Muda disugui pemandangan sisa-sisa kehidupan. Mulai dari Ulee Lheue, Deah Glumpang, Deah baro, Deah Teungoh, Lambung, Blang Oi, Lampaseh Aceh, Punge Ujong, Gampong Pie, Cot Lam Kuweh di sisi utara dan selatan Jalan Iskandar Muda.
Di lokasi ini pula berbagai macam kegiatan peringatan setahun tsunami akan digelar, salah satunya adalah kunjungan RI 001 SBY. Berbagai persiapan digelar untuk menyambut orang nomer satu di negeri ini. Beberapa reruntuhan dibersihkan, lubang-lubang di sepanjang Jl. Iskandar Muda ditambal sehingga diharapkan laju rombongan RI 001 bisa berjalan mulus.
Tenda-tenda pengungsi tidak luput dari pembersihan. Pembongkaran tenda-tenda tersebut turut dilakukan lagi-lagi untuk menyambut kedatangan Presiden RI. Tentunya bukan tenda kosong yang sudah tidak dipakai lagi. Pemilik tenda para pengungsi di Dusun Tongkol, Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa – Banda Aceh, terpaksa harus mengungsi lagi. Setelah semua hancur tak berbekas digulung tsunami dan setahun tanpa tempat tinggal yang layak kini harus terusir tidak memiliki tempat tinggal lagi.
Sementara itu kantor BRR yang menempati salah satu gedung kantor Sumber Daya Air Jl. Ir. Muhammad Thaher No. 20 Lueng Bata persiapan penyambutan kedatangan SBY tidak kalah sibuknya. Semuanya dipercepat, jalan diaspal dihaluskan tidak tanggung-tanggung satuan kepolisian dari brimob bersenjata turut mengamankan pengaspalan jalan untuk mempercepat perbaikan jalan.
Bukan membangun rumah tempat surga bagi keluarga yang kehilangan rumah, tetapi membongkar tenda dan mengusir pengungsi yang tidak memiliki rumah. Padahal tenda itu adalah satu-satunya surga bagi mereka. Bukan jalan lintas pantai barat antara Banda Aceh menuju Meulaboh yang harus segera diperbaiki, tetapi jalan yang akan dilalui presiden yang diperhatikan dan dipercepat pengerjaannya. Padahal saudara sebangsa di Meulaboh, Calang, Kreung Sabe, Teunom, Lamno butuh pertolongan cepat, butuh segera disentuh pembangunan. Tapi akses menuju ke sana sudah terabaikan dan hilang terbawa angin entah kemana.
Heran, jaman sudah edan semua bisa dibalik tanpa nurani. Jika kondisi seperti ini berarti seorang presiden adalah korban yang perlu ditolong cepat, diberi kemudahan pengurusan dan keamanan, diberi fasilitas gratis, diberi kehidupan yang layak. Bukan para pengungsi korbannya, bukan para pengungsi pahlawannya, tetapi seorang presiden. Alangkah kasihannya presiden.
Dan keadilan tidak berpihak lagi pada nurani karena terpupus oleh tirani.
- Uncategorized | Time: 23:02 (UTC+8)




so, apa yang bisa dilakukan sekarang?
Comment by dudi — January 5, 2006 @ 15:45