December 3, 2005

tentang sobat

medio november 1998 … Paras senja bergulir menampakkan sinar jingga. Bunga Flamboyan merah mekar menghiasi parasmu. Dahan tergoyang hembusan angin menjatuhkan bunga-bunga flamboyan. Jalan aspal yang hitam, semak belukar yang hijau, rerumputan yang mengering coklat terselimuti permadani merah flamboyan menambah paras senja.

Berjalan menorobos semak-semak hingga tergoyang. Sesekali kaki tersandung oleh panjang semak atau mungkin karena terburu-buru menuju bangunan kayu untuk istirahat. Sehabis dari wartel kopma menanyakan kabar seorang sobat. Sudah empat bulan ini dia harusnya sudah hadir di tengah-tengah kami. Dia ini putih kulitnya terbiasa dengan hidup bersih, nggak salah memang kalau dia dalam mengerjakan sesuatu sangat perfeksionis.

Teringat saat mengelilingi Kota Malang untuk mencari alamat seorang anggota untuk menyebarkan undangan rapat koordinasi. Cuaca yang panas tidak mengendurkan semangat dia, sepertinya jalan ini sudah kami lewati 3 kali dan ini yang keempat kali. Namun hasilnya tetap nihil belum menemukan alamat yang kami cari. Keempat kali melewati jalan yang sama dan kami berhenti di warung rokok. Bukannya berhenti untuk membeli air mineral dan sebungkus rokok seperti yang aku lakukan, tetapi dia justru menyeberang jalan ke rumah tingkat bercat putih yang bertuliskan Ketua RT pada salah satu sudut tembok pagar yang tinggi. Aku paham apa yang dia lakukan, kalau orang lain sudah malas melakukannya.

Terik matahari yang menyengat tetap bersikeras memencet bel rumah. Istana yang lebih tepat, dengan tembok tinggi mempunyai kesan penghuni yang sangat tertutup dan protek terhadap lingkungan sekitarnya, bisa dibayangkan kalau pemilik rumah keluar pasti sobatku akan kena semprot karena siang panas begini adalah waktu untuk istirahat malah diganggu oleh suara bel yang tiada henti berbunyi.

Lingkungan disini adalah perumahan elit, tempat orang kaya dan cukong-cukong. Sementara analisaku pemilik rumah itu meskipun Ketua RT tidak akan tahu alamat yang kami cari sambil kuperhatikan sobatku yang sabar menunggu pemilik rumah keluar. Untung kalau pemilik rumah sendiri yang keluar, tapi aku pesimis karena pada umumnya penghuni rumah di daerah sini hanya pembantu dan petugas keamanan saja. Namun sobatku tetap sabar menunggu di bawah terik matahari.

Kerja keras, ulet dan tidak kenal menyerah. Kalau orang lain mungkin sudah dimasukkan bak sampah tumpukan undangan ini, atau mungkin disimpan di bawah kasur atau digeletakkan saja di atas meja. Sungguh panas waktu itu tidak menyurutkan semangatnya.

Sudah empat bulan berlalu. Empat bulan ini inspirator dalam memunculkan semangat seakan hilang tanpa kehadiran sobat kami. Entah begitu besar semangatmu sebagai guru. Begitu banyak kegiatan yang sukses hasil keringatmu karena semangatmu, karena keuletanmu, karena kegigihanmu.

Waktu tetap terus bergulir kami akan terus menunggu kehadiranmu. Sungguh sobat kami terus menunggumu … menunggu kegigihamu … menunggu keuletanmu … dan kami terus menunggu senyummu seperti saat-saat sebelum kecelakaan pemanjatan di Lembah Kera saat itu. Dan kami akan terus melantunkan nyanyian jiwa untuk kesembuhanmu. Empat bulan … dan waktu tetap datang terus berganti … Bersama bangunan kayu memandangi senja langit, memandangi warna merah jalan karena flamboyan. Paras senja perlahan beranjak meninggalkan. Namun kamu selalu menjelma menjadi sobat yang hangat, teman yang setia sabar, karib yang penuh kasih sayang, senyum yang ceria dan lembut memberikan rasa damai membisikkan “semua akan berjalan dengan baik”.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kosong.blogsome.com/2005/12/03/tentang-sobat/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>