Tetangga Babi
Mendung menggelantung tak pernah beranjak dari atas Gunung Sitoli. Kucuran hujan menjadi sahabat tak pernah berhenti mengguyur Nias. Kalau dingin gini bawaannya lapar … wadah pikiran sudah melayang kepada cokelat TOP yang masih tersimpan di kos-kosan. Kurang 5 menit lagi beduk adzan maghrib, untuk mengisi waktu mencoba otak atik dvb newtech.
Babi … asyu … tenyom … semua binatang lengkap kusebut (walah inikan bulan romadhon kok ya masih ngumpat … ya gak papa itung-itung batalin puasa sebagai takjil begitu gumamku yang lain). Memang koneksi 2 hari ini yang protol-protol gak stabil. Buru-buru untuk kirim data, untuk mengirim pesan di Yahoo Messenger juga sudah susah.
Takjil dengan mengumpat sudah, berarti harus lari ambil air putih supaya lebih afdol eh apa afdhol gitu ya (gak tahu yang bener yang mana, emang gue pikirin …. ck ck ck ck sejak kapan ya bisa ngomong gue … walah asli kampung udik saja kok ya ngomong gue) gumamku lagi sambil meneguk air putih … gleegeg … glegeg.
Wah seger juga habis minum segelas airputih. Mak cleng otak langsung mengarah pada satu kata yaitu rokok. Di saku celana gak ada, isi tas juga gak ada, singkat cerita langsung narget temen di kantor UN Ocha Nias. Hehehe akhirnya bisa juga merokok. Ambil nafas dalam-dalam kemudia keluarkan pelan-pelan. Melihat warna jingga langit berjalan bergerak menghilang. duuuhh nikmat juga hidup di Nias.
Oiii ayo cabut, nglamun tok ae … seru Mas Bambang dengan tangan besarnya memukul pundakku. Walah lagi enak-enak jongkok ngelamun lihat langit kok ya diganggu. Seru juga nih orang, Bambang Wibisono Pak Leng ini merupakan nama yang sudah akrab bagi teman-teman Pencinta Alam di Malang.
Gak dinyana-nyana begitu memasuki salah satu ruangan di kantor UN Ocha Nias, tampak duduk lelaki paruh baya yang dapurannya kok pernah ketemu. Semakin kudekati semakin yakin kalau orang itu adalah Mas Bambang Wibisono. Celeng biasanya teman-temannya seperguruannya memanggil atau Pak Leng bagi teman-teman yang jauh dibawah terpaut umur dengan Mas Bambang. Rupanya lelaki ini adalah Project Manager di UN Habitat yang kerjanya adalah bangun rumah bagi pengungsi korban bencana atau konflik peperangan. Walah kok ya bisa ketemu Celeng di Nias yang jauh dari kampung halaman.
Singkat cerita langsung nebeng mobil operasional UN Habitat menuju ke kosan. Sebelum pulang ya mampir dulu ke warung padang Pak Gaek. Masak karyawan UN gak mampu nraktir. Mumpung … ada makan gratisan, sikat habis. Anginpun keluar dari semua lobang, wah legah deh angin dah keluar sudah gak masuk angin lagi, obatnya cuman makan.
Mobil melaju merambat menuju tabita, tempat saya dan teman-teman airputih lainnya numpang menginap. Sebenarnya maksudnya gak menumpang sih, soalnya yang punya rumah Bang Martin ini juga gak mau kalau salah satu kamarnya di sewa maunya ditempati saja gak usah dibayar. Sosok tubuh tinggi dan botak luicin sayang gak pakai minyak biar tinggal gosok sudah keluar apinya. Ya namanya Bang Martin lelaki satu istri dan 3 orang anak ini sudah mengenal kami sejak kedatangan tim AirPutih di Nias awal April lalu.
Akhirnya tiba juga di kosan. perut kok rasanya ada yang pingin keluar, wah tuntutan alam ini. Ngeluyur lari menuju kamar mandi. Gubrak pintu saya tutup tapi kok gak ada kuncinya, mmm ya sudah biarin saja yang penting bisa ditutup. Lepas semua kecuali baju. Jongkok kepala menengadah ke atas melihat langit di celah atap yang sengaja dibuka 30 cm biar ada sirkulasi udara. Sepi sunyi kriiikkk kriiikkk suara jangkrik terdengar lirih kalah dengan suara pancuran air di depanku. GROOOOKKKKKKKK. Waiyah …. jancoook … babiii … asyuuu. Suara keras kayak orang digorok tiba-tiba mengagetkan. Hampir lari keluar telanjang, untung gak jadi.
Grookkkk …. groookkkk. Suara itu persis disebelah luar dinding kamar mandi. Saya tamatkan suaranya, tapi bukan suara manusia digorok atau suara gorilla menangis. groookkk … sekali lagi suara itu muncul, yaa … ingat saya. Sosok Patkai di dongeng Su go kong (gak tahu tulisannya bener apa gak). Iya itu suara babi. Anjritt ada kandang babi rupanya di di belakang tempat kami. Pantes bau babi ini kadang terbawa angin menuju kamar. Gleg babi, menjadi tetanggal kami.
Meski kaget mendengar suara buabi tadi, skyukur secara otomatis bisa keluar semua kotoran tinja dari dalam tubuh tanpa susah payah. Singkat cerita setelah selesai beol langsung ngibrit ke kamar gabung sama rekan-rekan yang lain. Kamar ukuran 3×2 dengan 1 ranjang kayu dan 1 ranjang lipat diisi 4 orang. Lumayan hangat kalau malam, lagian nyamuk juga tinggal pilih mau yang mana diantara kami. Hanya ada 10 bungkus coklat, satu botol aqua 1 liter, mmm cukup lah untuk sahur nanti.
Dari Nias pulau yang berada di 00 32’ 54” – 01 32’ 18” Lintang Utara dan 97 03’ 35” – 97 56’ 12” Bujur Timur
- Uncategorized | Time: 11:23 (UTC+8)




Tetap semangat terus bersama teman-teman disana
Comment by Yudhis — October 21, 2005 @ 16:19
Yup Mas Yudhis terimakasih.
Semangat solidaritasKEBERSAMAAN selalu menyertai kami
Comment by roim — October 22, 2005 @ 03:17
oiiii… gmn kabarnya
kamu da keliling dunia
aku masih di nias
ballik sinilah…
ne tonifare
Comment by biw — September 7, 2007 @ 10:19