Berlomba dengan rintik hujan
Sabtu sore 27 Agustus 2005 mendung begitu akrab dengan Banda Aceh hari-hari ini. Butiran air membuat basah daun pohon dan batangnya. Kerap kali terpaan angin meniuk menggerakkan pepohonan. Seragam gerakan pepohonan karena kuatnya angin saat kupandang. Mendung masih menggelantung di atas sawah-sawah yang mulai dipanen. Lokasi SPMAA di pelosok Blang Bintang kurang lebih 10 km dari Teuku Umar 31. Kupaksa melaju pulang meski rintik hujan masih turun dan butiran-butiran itu terasa di wajah hempasannya.
Mengambil jalan lain dengan tujuan mencari alternatif jalan baru yang belum pernah kulewati. Arah Kota Banda Aceh begitu tulisan yang kubaca pada tanda jalan simpangan. Sepeda motor kupacu lebih cepat agar bisa secepatnya tiba di posko. Namun cuaca tidak memihak, hujan turun lebih deras. Sepeda motor kubelokkan di Warung kopi daerah Ule Kareng yang biasa kami datangi. Sedikit belari kami memasuki warung kopi yang terlihat sudah ramai dikunjungi orang. Memang hujan begini lebih enak minum kopi panas sambil menunggu redanya hujan.
Aroma kopi tercium begitu memasuki warung langganan kami. Kepulan asap mengawang di dalam ruangan karena rokok. Ada satu meja kosong ditengah ruangan. Helm yang basah kutaruh di atas meja, demikian juga dengan tas. Untung air hujan tidak sampai masuk dalam tas, setelah kuperiksa isi tas sebelum kutaruh di atas meja. Segera kupesan kopi panas dan teh panas untuk temanku.
Ada 9 meja di warung ini, tanpa kusadari menghitungnya. Tiap-tiap meja mempunyai pokok pembicaraan yang berbeda mulai nota kesepahaman perdamaian, nilai tukar rupiah, keberhasilan tim bulu tangkis Indonesia dan pembicaraan-pembicaraan keseharian lainnya. Suara orang-orang itu mengiringi suara hujan dan beberapa kendaraan mobil yang lewat, intinya riuh. Berbagai macam mimik kutemui pada wajah-wajah orang disekelilingku. Sambil menunggu hidangan kopi yang kami pesan kunyalakan sebatang rokok, begitu nikmat.
Orang keluar masuk silih berganti. Dua pria masuk menarik perhatianku sesaat. Kulitnya hitam legam rambut keriting mulai memanjang. Mungkin 60 tahunan umurnya, oh … pria tua itu dituntun oleh pria yang satunya. Iya benar matanya memang tidak bekerja sebagaiman mestinya atau buta. Wajahnya menampilkan kehidupan yang keras, meski buta namun sorot matanya begitu tajam. Hanya warna putih pada bola matanya saat kelopak mata terbuka. Pria tua kurus itu dituntun oleh pria yang usianya lebih muda. Menggunakan kaos merah bergambar salah satu partai. Kulitnya lebih bersih badannya sedikit kekar, yang jelas sehat.
Pria yang lebih muda ini menuntun pria tua memasuki warung dan mendatangi setiap meja. Ya tepat seperti dugaan kami semula bahwa kedua pria tersebut adalah pengemis. Penampilan dan tingkah laku yang bisa ditebak. Memasuki ruangan dengan kedua tangan disodorkan menengadah. Wajah dipasang dengan muka memelas. Berjalan dengan langkah lemah ingin menyampaikan bahwa semenjak pagi belum makan, sedikit gontai dan pelan.
Satu per satu meja didatangi, termasuk meja dimana kami duduk. Orang masih keluar masuk silih berganti. Suara-suara masih riuh. Butiran hujan masih turun membasahi jalanan. Aroma kopi semakin tajam, maklum kerena tempat kami duduk dekat dengan peramu kopi aceh. Sangat berbeda dengan warung kopi di Jawa, terutama cara meramu dan meracik kopi untuk dihidangkan. Ada satu panci besar ditaruh di atas kompor menyala. Tentunya isi panci itu air yang dipanaskan. Begitu peramu mengambil air di dalam panci tersebut, aroma kopi semakin keluar. Jelas kopi sudah dicampurkan dalam panci besar tersebut. Tinggal menaruh gelas dan diisi gula, kemudian diambilkan air yang sudah terisi kopi. Pandangan saya alihkan keluar untuk melihat cuaca di luar.
16.48 hujan rintik masih turun. Sesekali hembusan angin masuk. Beda dengan kondisi Aceh sebelumnya. Saat ini dingin karena angin dan hujan. Tidak panas seperti minggu kemarin. Kopipun tinggal setengah, sebatang rokok saya nyalakan. Temanku menepuk pundakku memberikan tanda menyuruhku untuk melihat meja di depan kasir. Rupanya dua pria tadi sedang mengambil kursi untuk duduk.
Kedua pria itu memanggil pelayan warung rupanya memesan kopi. Pria tua berkaos kuning mengeluarkan semua uang recehan dari semua saku yang ada. Sungging senyum sambil mencoba sekali lagi mengeluarkan sisa uang yang ada. Rupanya penghasilan hari ini cukup banyak, mungkin itu yang aku tangkap dari senyumnya. Rokok kretek 234 sebatang terselip dimulutnya. Ompong, gigi depan sudah habis. Saat menghisap dalam-dalam rokok tampak cekungan dalam pada kedua pipi. Tangannya meraba-raba mencari kopi.
Pria muda berkaos merah sesekali menguap dengan mulut dibuka lebar. Uang kertas di keluarkan, disusun rapi dan dihitung. Sesekali berbicara dengan pria tua di depannya. Dari wajah kedua pria ini sepertinya tidak ada hubungan darah. Mungkin waktu dan hidup yang mempertemukan kedua pria ini. Pria muda menguap lagi. Uang kertas masih dihitung sambil rokok kretek menempel di mulutnya.
Pelayan warung dipanggil lagi. Minta disediakan roti rupanya. Pria tua masih sibuk meraba-raba uang recehan untuk memastikan uang tersebut berapa nilainya dengan meraba besar kecilnya uang. Sambil menyusun di atas meja. Rupanya mendapatkan pengahasilan banyak saat kulihat tumpukan uang kertas ribuan di depan pria muda. Kalau melihat tebal tumpukan kira-kira 25 ribuan jumlahnya.
17.10 kulihat hujan sudah mereda. Setelah membayar kamipun pamit pergi. Tukang parkir mengeringkan jok sepeda kami, service tambahan pikirku. Namun masuk akal supaya celana tidak basah. Sepeda sengaja kujalankan pelan sambil menikmati sore dan basahnya jalan. Suasana yang paling enak untuk dinikmati. Begitu segar mata melihat pepohonan yang masih basah, udara cukup dingin dan angin yang semilir menerpa wajah. Sambil bergerak pulang menyisiri jalan yang basah, kami masih terjebak dengan topik pembicaraan kedua pria tadi. Tentang sisi hidup lain, meski mereka pengemis toh mereka tetap mempunyai hak yang sama untuk duduk bersama menikmati hidangan kopi yang dibelinya.
- Uncategorized | Time: 06:33 (UTC+8)




tak terasa karena samar dan halusnya, dalam diri kita bangun sekat-sekat. kita rentang jarak-jarak. hati dan otak sumbernya. mata, penciuman dan pendengaran pemindainya. andaikata, kita mampu lucuti diri dari sekat dan jarak, lalu lebur pada siapapun, apapaun, kapanpun dan dimanapun… rasanya kit abisa menjadi individu yg lebik baik, lebih manfaat…
Comment by rhay — August 29, 2005 @ 03:42
pengemis muda dapat uang kertas, yg tua dapat recehan, kasihan sekali.
Comment by ox — August 29, 2005 @ 23:05