August 31, 2005

cerita tentang sobat

Pintu gerbang pemisah kampus dengan kampung hanya cukup dilalui satu orang itupun harus sedikit miring dan mengangkat kaki agak tinggi bila melalui. Aroma hujan saat menghirup udara terasa. Sisa-sisa hujan semalam nampak pada jalan aspal yang masih basah. Burung bernyanyi mengucapkan selamat pagi pada matahari yang malu-malu. Tumbuhan menjalar semakin menutupi bangunan kayu. Menjalari bangunan kayu dan trembesi yang mengatapi bangunan kayu. Menyalakan rokok menghisap dalam-dalam dan pelan lalu mengeluarkannya. Bersama bangunan kayu menikmati damai dan indahnya pagi.

Terngiang begitu berat menjalani. Satu minggu menapaki kehidupan di bumi oranye. Kontras dengan apa yang mereka dengang-dengungkan saat menggembleng di lembah kera. “Kalian ini masih siswa, belum menjadi bagian dari keluarga kami. Keluarga besar IMPALA UNIBRAW. Karena persaudaraan yang kuat kami bisa survive, bisa membesarkan nama IMPALA UNIBRAW”. Kalimat-kalimat itu tidak pernah hilang dari otak yang mulai tumpul. Adakah sosok pemakai jaket wibawa seperti kemarin sore dalam lamunan. Damainya pagi jangan terlalu cepat berlalu. (more…)

August 30, 2005

Rumah Kita

“ … Bravo” ……. pekik sang nakoda. Pelan namun terasa nuansa beribu makna seperti saat memohon dikabulkannya doa kita kepada Sang Robb waktu sholat berjamaah … Amiin pelan penuh makna. Suasana itu langsung hilang tertutup bayangan proses rapat koordinasi yang baru selesai. Rapat koordinasi ternyata tidak menyelesaikan permasalahan-permasalahan kepanitiaan. Bahkan semakin menambah beban kepanitiaan. Rapat koordinasi justru sebagai ajang pembantaian. Belum selesai melamun memikirkan strategi menyelesaikan target-target paksaan hasil rapat “Hei … kamu … habis rapat rapikan ruangan ini” suara cempreng badan kekar mungkin terlalu sering melahap menu latihan. Kulit hitam hangus seakan menandakan segudang pengalaman kegiatan. Wajah dan badannya mengingatkan pemain sepak bola Edgar “Pitbull” Davids yang pernah merumput di Juventus. Suara dan sosok menakutkan itu membuyarkan lamunan tersentak sesegera seperti robot membersihkan dan merapikan ruangan first room. (more…)

August 28, 2005

Berlomba dengan rintik hujan

Sabtu sore 27 Agustus 2005 mendung begitu akrab dengan Banda Aceh hari-hari ini. Butiran air membuat basah daun pohon dan batangnya. Kerap kali terpaan angin meniuk menggerakkan pepohonan. Seragam gerakan pepohonan karena kuatnya angin saat kupandang. Mendung masih menggelantung di atas sawah-sawah yang mulai dipanen. Lokasi SPMAA di pelosok Blang Bintang kurang lebih 10 km dari Teuku Umar 31. Kupaksa melaju pulang meski rintik hujan masih turun dan butiran-butiran itu terasa di wajah hempasannya.

Mengambil jalan lain dengan tujuan mencari alternatif jalan baru yang belum pernah kulewati. Arah Kota Banda Aceh begitu tulisan yang kubaca pada tanda jalan simpangan. Sepeda motor kupacu lebih cepat agar bisa secepatnya tiba di posko. Namun cuaca tidak memihak, hujan turun lebih deras. Sepeda motor kubelokkan di Warung kopi daerah Ule Kareng yang biasa kami datangi. Sedikit belari kami memasuki warung kopi yang terlihat sudah ramai dikunjungi orang. Memang hujan begini lebih enak minum kopi panas sambil menunggu redanya hujan. (more…)

August 20, 2005

Renungan Kemerdekaan

Masih kuat dalam ingatan ketika membaca berita pada salah satu media awal Juni tentang adik Khaerunisa. Meninggal dunia dalam pelukan ayahnya di tumppukan kardus setelah 4 hari terserang muntaber. Heryanto bocah SD di Garut berani mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena tidak mampu membayar uang sekolah. Sel-sel otaknya mengalami kerusakan karena lilitan kabel yang digunakan untuk bunuh diri. Medio Juli telah menampar bangsa, busung lapar masih merebak di belahan nusantara bahkan ibukota Jakarta.

Kehidupan keras telah merenggut proses pertumbuhan anak-anak. Khaerunisa yang selalu ceria lucu harus ikut kakak dan bapaknya mengais rejeki dengan mengumpulkan kardus. Heryanto yang harus ikut memikirikan susahnya mencari nafkah hanya untuk membayar sekolah. Pendidikan yang HARUS dia terima. Masa tunas – tunas yang seharusnya menjalani kehidupan dengan belajar, bermain, kasih sayang menumbuhkan bakat minat dan mengasah kemampuan. Namun harus menjalani kehidupan realita yang kejam. (more…)

August 11, 2005

solidaritasKEBERSAMAAN photography CONTEST’05

Bisa menjelaskan berbagai macam makna. Rangkaian peristiwa dalam sejarah. Menjelaskan suatu keadaan dengan makna yang dalam. Peristiwa yang bisa menggugah lubuk hati. Foto yang dapat membangkitkan emosi dan lain sebagainya.

Solidaritas Kebersamaan dalam situsnya Yayasan Tunas Cendekia mengadakan Lomba Fotografi sebagai bagian dari kampanye untuk meningkatkan kepedulian bangsa terhadap nasib anak-anak Indonesia. Tunjukkan solidaritas kebersamaan melalui lensa kamera anda. Ambil berbagai momen solidaritas kebersamaan. Bantu kami. Tunjukkan karya anda kalau bangsa Indonesia masih mempunyai semangat kepedulian dan kebersamaan untuk membantu anak-anaknya. Tunjukkan karakter asli bangsa kita dalam kampanye solidaritasKEBERSAMAAN photography CONTEST’05, demikian salah satu alenia paragraf di situs solidaritasKEBERSAMAAN. (more…)