cerita tentang sobat
Pintu gerbang pemisah kampus dengan kampung hanya cukup dilalui satu orang itupun harus sedikit miring dan mengangkat kaki agak tinggi bila melalui. Aroma hujan saat menghirup udara terasa. Sisa-sisa hujan semalam nampak pada jalan aspal yang masih basah. Burung bernyanyi mengucapkan selamat pagi pada matahari yang malu-malu. Tumbuhan menjalar semakin menutupi bangunan kayu. Menjalari bangunan kayu dan trembesi yang mengatapi bangunan kayu. Menyalakan rokok menghisap dalam-dalam dan pelan lalu mengeluarkannya. Bersama bangunan kayu menikmati damai dan indahnya pagi.
Terngiang begitu berat menjalani. Satu minggu menapaki kehidupan di bumi oranye. Kontras dengan apa yang mereka dengang-dengungkan saat menggembleng di lembah kera. “Kalian ini masih siswa, belum menjadi bagian dari keluarga kami. Keluarga besar IMPALA UNIBRAW. Karena persaudaraan yang kuat kami bisa survive, bisa membesarkan nama IMPALA UNIBRAW”. Kalimat-kalimat itu tidak pernah hilang dari otak yang mulai tumpul. Adakah sosok pemakai jaket wibawa seperti kemarin sore dalam lamunan. Damainya pagi jangan terlalu cepat berlalu. (more…)
- Uncategorized | Time: 21:47 (UTC+8) Comments (2)



