Warisan Leluhur Yang Terlupakan
Sore itu, Bang Duman datang ke posko membawa sepeda motor win. Seperti biasa dan seperti pengguna akses internet yang lain, bang Duman yang tergabung dalam LPAM Nias sebuah NGO bergerak untuk membantu pemulihan di Nias datang ke posko mebutuhkan akses internet yang kami sediakan untuk aktivitasnya. Sepeda motor itu kami pinjam untuk mencari udara segar sore hari. Seuai informasi dari rekan wanadri menganai pemandangan bagus dan rumah adat Nias, kami pun langsung meluncur ke daerah rumah adat ini, memang tak jauh jaraknya kurang lebih 2 Km dari posko AirPutih di Pendopo Kabupaten Nias. Dan memang benar rumah adat ini adalah salah satu sejuta pesona Nias, sehingga membuat tergelitik untuk menulis.
Ada sesuatu yang terlewat dari amatan kebanyakan orang. Bahwa bentuk rumah adat di Pulau Nias merupakan satu-satunya gaya bangunan yang masih berdiri, tidak roboh. Jika dibandingkan dengan gaya rumah modern yang umumnya digunakan oleh warga Nias. Namun rumah modern yang terdiri dari batu bata, semen dan concret tulangan ini banyak yang hancur akibat gempa 26 Desember 2004 dan gempa 8.7 richter pada malam 28 Maret 2005 kemarin.
Rata-rata umur rumah adat tradisional di Pulau Nias ini sudah mencapai 200 tahun bahkan ada yang berumur 300 tahun. Tentunya sudah ribuan gempa yang menggoyang Pulau Nias. Namun ruah-rumah adat tradisional ini masih berdiri kokoh, meskipun ada beberapa rumah yang sedikit miring akibat gempa besar kemarin. Hal ini menunjukan bahwa nenek moyang kita telah mempelajari gejala alam dengan baik. Secara turun menurun leluhur telah membuat desain dan kontruksi rumah adat di Pulau Nias menyesuaikan dengan kondisi dan gejala alam di Nias. Nenek moyang telah mengetahui bahwa Pulau Nias ini rawan dengan gempa, sehingga mereka meciptakan desain kontruksi rumah adat tradisional yang tahan terhadap gempa. Pulau Nias dan beberapa pulau-pulau di sisi barat Pulau Sumatera merupakan batas pertemuan lempeng besar kerak bumi yaitu lempeng sunda dan lempeng indo-australia, sehingga rawan terjadi pergerakan-pergerakan pada kedua lempeng ini yang mengakibatkan gempa tektonik. Hal-hal ini telah dipelajari oleh leluhur Nias.
Penyangga tiang-tiang tinggi besar dan kuat yang bisa menahan gempa, padahal tiang penyangga ini menahan beban yang berat karena bentuk atap rumah adat nias yang tinggi. Selain itu desain kontruksi lainnya adalah pasangan balok-balok yang yang dipasang secara silang di bagian bawah, balok kayu ini berfungsi seperti pegas untuk menahan goyangan gempa sehingga rumah tetap kokoh berdiri. Bahan yang digunakan rumah adat ini seluruhnya adalah kayu. Menurut pemilik rumah adat di Gunung Sitoli Inanova Telaumbanua, bahwa rumah adat Gunung Sitoli dengan rumah adat di Teluk Dalam ada perbedaan bentuk yaitu kalau di Gunung Sitoli rumahnya berbentuk bulat sedangkan di Teluk dalam rumah adatnya berbentuk persegi panjang.
Di Gunung Sitoli rumah adat ini sudah mulai ditinggalkan. Hampir 50 % rumah roboh dan hancur akibat gempa 28 Maret kemarin. Rumah modern dengan beton tulangan ini tidak kuasa menahan gempa. Sementara rumah adat di Gunung Sitoli bisa dihitung dengan jari rumah adat yang tersisa di Gunung Sitoli masih berdiri kokoh. Bahkan mungkin hanya satu di Gunung Sitoli yang masih terawat dengan baik seperti rumah adat milik keluarga Telaumbanua. Gunung Sitoli merupakan Kota teramai di Pulau Nias, karena Gunung Sitoli merupakan gerbang pintu masuk dari dunia luar. Kesulitan bahan baku kayu untuk didapatkan dan mahal, proses pembangunan membutuhkan waktu yang lama, desain kontruksi bangunan yang rumit dan ukiran-ukiran yang sulit untuk dibuat merupakan penyebab rumah adat tidak dipergunakan lagi di Gunung Sitoli. Namun ketangguhan arsitektur warisan budaya nenek moyang telah terbukti dan harus diakui lebih hebat dari rumah modern. Leluhur secara turun menurun telah mewariskan gaya arsitektur yang memang dirancang berdasarkan karakteristik alam dan kondisi lingkungan adat budaya Nias.
Pembangunan yang merujuk pada warisan nenek moyang akan ikut melestarikan nilai sejarah kreasi budaya leluhur, kondisi geografis letak Pulau Nias yang berada pada pertemuan lempeng kerak bumi sehingga rawan gempa. Dua hal tersebut merupakan kerangka utama yang tepat dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali Pulau Nias.
Matahari beranjak pulang, jingga senja mulai memudar pemandangan kota Gunung Sitoli dan Laut Nias dengan kesibukannya tak pernah pudar. Suguhan pemandangan indah itu selalu menyisakan kesegaran relung jiwa yang kami amati dari Rumah Adat milik keluarga Telaumbanua di ketinggian 110 mdpl. Tentunya sepeda motor pinjaman milik Bang Duman dari LPAM Nias harus segera kami kembalikan dan rutinitas di Posko AirPutih Internet Center Pendopo Kabupaten Nias telah menunggu. Semoga pemulihan Nias segera berjalan dengan baik.
Saohagolo …
Allbum Rumah Adat Nias bisa dilihat disini.
- Uncategorized | Time: 21:18 (UTC+8)




saya anak daerah kab.nisel, saya mohon agar dimasukkan di file berupa foto2 pemandanga dan pantai yang ada di Pulau Nias seluruhnya.
Comment by maret laia — June 6, 2008 @ 08:49
saya tinggal sekarang ini di malang jawa timur, dengan ini saya minta agar berita2 baik buruknya mohon di kirim.
Comment by maret laia — June 6, 2008 @ 08:52
Maret Laia,
Saya sekarang sudah tidak di Nias lagi. Tulisan itu adalah rekaman saya saat bertugas di Nias selama 3 bulan. Kalau foto sudah saya sertakan linknya di tulisan tersebut di atas. saohagolo
Comment by roim — June 9, 2008 @ 04:20