capungnya UN
Sabtu 2 April 2005, capung mesin milik UN – WFP dengan jenis MI – 8 MTV 1 membawa kami terbang ke Pulau Nias tepat pukul 09.30 waktu Banda Aceh. Kalau kami bandingkan dengan herlcules C 130 milik TNI AU jauh bedanya karena heli ini kecil sekali getaran dan stabil saat take off maupun landing seperti pesawat boing 737 komersial.
Tampak koordinasi yang rapi dalam tubuh UN dan kru helicopter sebanyak 3 orang ini, selalu menampilkan pelayanan yang memuaskan namun tegas terutama masalah waktu. Ruangan cargo yang digunakan untuk penumpang dan barang berukuran panjang 5,34 m lebar 2,29 m dan tinggi 1,8 m ini dipenuhi oleh kebutuhan logistik untuk support tim UN dan kami dari tim airputih serta tim IT UN – WFP yang berjumlah 3 orang juga, mereka ini tenaga IT dari Filipina dan Afrika. Bersama mereka selama penerbangan kami mencoba mengamati pemandangan di bawah.
Heli yang mempunyai berat maksimal saat take off sampai 13.000 kg dan dapat terbang dengan kecepatan sampai 250 km perjam mengambil rute sepanjang pesisir barat pulau Sumatera. Dari sisi kanan dan kiri lambung heli terdapat jendela kaca berbentuk bundar dan salah satu dari beberapa jendela terdapat engsel sehingga bisa dibuka. Sehingga kami manfaatkan untuk melihat bagaimana kondisi di pesisir barat akibat gempa dan tsunami desember kemarin.
Keramahan dari kru heli ini sangat memuaskan saat salah satu dari tim kami kedinginan karena angin yang masuk melalui jendela yang terbuka, dengan ramah kru memberikan tanda kepada kami bahwa jendela bisa ditutup bila kedinginan sambil memperagakan orang yang kedinginan.
Memang saat mesin rotor penggerak kipas heli dinyalakan suara yang ditimbulkan sangat keras dan bising, untuk itu kru pesawat membagikan penutup telinga seperti headset sebagai peredam suara. Tak heran bagi kami yang ada di pesawat menggunakan komunikasi tubuh.
Tepat di atas Pulau Simeulue dan pulau-pulau kecil di sekitarnya kami ambil beberapa foto, sungguh pemandangan yang indah pulau-pulau itu. Tak lama kemudian kami berada di atas Pulau Nias dan terbang di atas pesisir timur Pulau Nias. Tampak kerusakan akibat gempa 28 Maret 2005 kemarin, banyak bangunan yang hancur terlihat dari atas. Dan tepat siang hari sekitar pukul 13.12 waktu setempat kami mendarat di lapangan sepak bola Kabupaten Nias yang dijadikan landasan darurat khusus untuk helicopter, sementara landasan udara Binaka di Gunung Sitoli terlalu jauh dan ada keretakan pada landasan bandara tersebut.
- Uncategorized | Time: 15:43 (UTC+8)



