8.7 Tengah Malam
Seperti biasa malam itu tanggal 28 Maret 2005 kami mengisi waktu ke warung kopi yang berada 100 meter dari posko kami di Jl. Teuku Umar 31 Seutui Banda Aceh. Mungkin sudah rutinitas kami bila malam hari belum tidur pergi ke warung kopi “pak item” tetangga kami. Namun hari itu lain dari biasanya, karena hampir dari keseluruhan anggota tim yang ada di posko belum tidur termasuk ibu peggy. Sekitar pukul 23.00 malam waktu setempat kami pergi ke warung kopi menyusul rekan-rekan yang sudah pergi sebelumnya.
Beberapa teman memesan minuman dan beli rokok sambil mengambil tempat duduk dan merubah layout meja karena 1 meja sebelumnya sudah tidak menampung dengan kedatangan kami. Kurang lebih 20 menit kemudian pesanan jeruk nipis saya baru datang, sedangkan pesanan teman-teman yang lain sudah diantar sebelumnya. Baru dua kali mencicipi hidangan jeruk nipis tiba-tiba getaran akibat gempa sedikit saya rasakan, dan kebetulan beberapa orang diseberang meja kami juga merasakan hal yang sama. Memang sudah beberapa kali kami merasakan gempa selama berada di banda aceh, namun untuk yang kali ini berbeda sekali, awalnya gempa kecil kemudian beberapa saat getaran gempa terasa semakin membesar. Tanpa ada yang mengkomando semua berlari keluar dan menyeberang ke jalur hijau yang berada di tengah jalan raya Teuku Umar. Getaran gempapun terasa semakin hebat, dilanjutkan listrik yang padam sehingga menyebabkan kepanikan beberapa warga di sekitar kami. Saat itu pula langsung saya berlari ke posko untuk memeriksa rekan-rekan yang berada di dalam posko, syukur alhamdulillah 3 rekan yang berada di posko sudah keluar dari dalam gedung. Saya kembali ke depan warung kopi tempat rekan-rekan yang lain sambil memberikan kepastian bahwa tim yang ada di posko sudah berada di luar. Dan kami semuapun sepakat untuk tidak saling memisahkan diri sambil kembali ke posko.
Kondisi sehabis hujan semenjak siang tadi dan listrik yang padam semakin menambah kepanikan warga di daerah seutui. Tampak pula tetangga kami langsung keluar dan meneriakkan adzan di kegelapan malam dan keheningan malam itu. Beberapa saat kemudian mobil, sepeda motor dan beberapa rombongan keluarga yang berjalan kaki mulai memenuhi kondisi jalan teuku umar untuk mengungsi. Trauma terhadap bencana gempa dan tsunami 26 desember kemarin sangat terlihat dari kepanikan warga yang berbondong-bondong jalan menuju daerah yang lebih tinggi.
Generator tidak lama hidup dan listrik di Posko kami menyala. Langsung beberapa rekan menyalakan notebook untuk mencari tahu informasi mengenai pusat gempa dan berapa kekuatan gempa. Informasi mengenai gempa ini langsung kami sampaikan ke rekan-rekan airputih di Jakarta dan Malang. Kamipun melakukan aktivitas converence di Yahoo Messenger dengan rekan-rekan di Jakarta dan Malang.
Tidak lama kemudian kami menemukan beberapa situs yang memberikan informasi gempa. Kondisi jalan teuku umar di depan posko kami semakin ramai lalu lalang kendaraan bermotor milik para pengungsi menuju ke dataran yang lebih tinggi seperti daerah Mata Ie. Seperti dalam informasi situs milik pemerintah Amerika Serikat yang konsen ke geologi informasi gempa bumi bahwa gempa yang baru saja terjadi berpusat di antara Pulau Siemeulue dan Pulau Nias, tepatnya di Kepulauan Banyak Sumatera Utara pada koordinat 2.076 N 97.013 E. Kurang lebih pada kedalaman 30 km di bawah dasar laut. dengan kekuatan gempa 8.7 skala richter.
Posko airputih di Banda Aceh pun ramai didatangi oleh warga sekitar untuk mengetahui informasi secara lengkap gempa yang baru saja terjadi. Tak urung beberapa warga sekitar Banda Aceh pun juga sempat datang ke posko untuk mengetahui informasi gempa.
Kepanikan warga pun mulai berangsur turun, jalan-jalan pun berangsur sepi, namun kesiapan warga tampak pada malam itu dengan tidak tidur, sehingga sewaktu-waktu apabila terjadi gempa susulan bisa langsung siap melakukan pengungsian.
Allbum bisa dilihat di sini.
- Uncategorized | Time: 19:35 (UTC+8)



