March 23, 2005

Pondok Ijou

Bangunan kayu di bawah rimbun pohon-pohon. Semak belukar tumbuh panjang kelihatan tak terurus, beberapa kantong plastik terlihat berserakan dibawah bangunan. Lampu 5 watt cahaya kuning redupnya memberikan kami semangat dalam tengah malam. Angin berhembus dari arah selatan menggerakkan rambut yang mulai memanjang. Memang tanpa disadari ada kesepakatan bahwa rambut kaum adam harus dibiarkan memanjang diantara kami. Tengah malam dingin semakin terasa menusuk tulang oleh hempasan angin malam. Gerakan-gerakan tangan memukul tubuh untuk mengusir nyamuk yang beberapa kali hinggap mencari daerah panas merah untuk menyambung hidupnya. Sering pula dengan menggerakkan bagian tubuh terutama kaki untuk membantu mengusir nyamuk.

Nyamuk … kadang kala teman untuk mengusir rasa kantuk. Tapi tidak untuk satu temanku, dia begitu baik hati darahnya diberikan dengan ikhlas untuk nyamuk-nyamuk itu. Rambut yang nanggung kumal mungkin seminggu belum sempat dibersihkan dengan shampoo. Kaos lengan panjang abu-abu bergambar salah satu acara maba MIPA 1997 kelihatan bersih namun kotor di bagian lengan dan belakang punggunggunya. Celana lapangan alpina krem tampak sedikit terbuka resleting depan, mungkin karena capek sehingga tidak terlalu diperhatikan. Nafasnya yang teratur dan berirama terlihat dadanya yang naik turun seirama dengan suara halus dari hidung dan mulutnya, sungging senyummu seperti dipaksakan karena untuk menutup rapat bagian mulutnya. Namun ekspresi keseluruhan wajahnya tampak sedang mensyukuri alunan tengah malam saat itu untuk tidur. Iri kumelihatnya. Istirahatmu di papan ujung bangunan kayu sebelah selatan samping lapangan bola. Istirahatlah sejenak teman sambil menunggu panggilan, semoga Tuhan selalu melindungimu seperti bangunan ini melindungi dan memberikan tempat istirahat sejenak bagimu kukatakan dalam hati sambil mengambil nafas dalam-dalam dan mengeleuarkannya pelan-pelan seiring membuang kepenatan.

Suara angin, katak dan jangkrik ataupun suara kesibukan beberapa tetangga yang masih hidup sedikit samar karena vokalnya yang dominan didekatku. Sebatang rokok wismilak terselip di jarinya. Sesekali sambil mengalunkan lagu kesaksian sebatang rokok dihisap begitu mantap seperti memaknai syair kesaksian yang dilantunkan.

KESAKSIAN
aku mendengar suara
jerit makhluk terluka
luka … luka
hidupnya luka
orang memanah rembulan
burung sirna sarangnya
sirna … sirna
hidup redup alam semesta luka
banyak orang hilang nafkahnya
aku bernyanyi menjadi saksi
banyak orang dirampas haknya
aku bernyanyi menjadi saksi
mereka dihinakan tanpa daya
ya … tanpa daya
terbiasa hidup sangsi
orang-orang harus dibangunkan
aku bernyanyi menjadi saksi
kenyataan harus dikabarkan
aku bernyanyi menjadi saksi
lagu ini jeritan jiwa
hidup bersama harus dijaga
lagu ini harapan sukma
hidup yang layak harus dibela

suaranya kadang jelas kadang menghilang atau terkesan nggremeng, mungkin ada bait yang lupa. Sesekali gerakan tangannya tampak mengusir nyamuk asap rokokpun mengikuti gerakan tangan tersebut. Tangan yang satu memegang dan menarik beberapa helai rambutnya yang hitam lurus dan lemas. Rambut yang disukai kaum hawa. Cahaya kuning 5 watt menerangi bagian kanan wajahnya. Penuh makna kharisma singa terpancar dari wajahnya begitu kuperhatikan. Hem lengan panjang kotak-kotak warna merah tergantung slayer orange di lehernya tampak kusam pudar belum pernah dicuci semenjak di kalungkan pertama kali saat pengangkatan setahun yang lalu. Guratan dan lipatan kulit di wajahnya menampakkan begitu dewasa dalam menjalani proses hidupnya persis satu kalimat yang keluar “… apapun yang terjadi … terjadilah …” siap menjalankan tugas apapun begitu kuat maknanya. Tembang lain iwan fals meluncur lagi dari mulutnya sambil sesekali menguap. Ah … begitu mulia dirimu dengan ikhlas menghibur kami meski kutahu tubuhmu begitu lelah seperti kamu saat menguap menahan lelap. Kami terhibur oleh nyanyian hatimu. Bangunan kayu ini telah merekam seakan menggema oleh suara-suaramu. Bangunan kayu yang memberikan tempat mengungkapkan suara hati untuk menghibur diri sambil menunggu panggilan.

Enam dawai gitar saling bergoyang dimainkan jemantik kekar. Meski kekar namun gemulai memainkan dawai-dawai tersebut. Kekar setelah hampir setahun ini digunakan merayapi papan dan tebing-tebing. Medan yang kamu gunakan dalam mencari kemampuanmu sesungguhnya. Hanya sedikit ujung-ujung rambutmu yang tergerak oleh angin. Meski panjang mungkin keriting karena kumal juga sehingga angin susah untuk menggerakkannya. Perlahan tubuh disandarkan pada salah satu kayu penyokong bangunan kayu. Perlahan untuk menikmati posisi nyaman mengistirahatkan penopang tubuh. Begitu nyaman tersembul dari ekspresi wajahnya ketika sudah menemukan posisinya. Gerakan jarinyapun tak terhenti. Sedikit kau pejamkan matamu. Suaramu pelan namun terdengar mantap penuh makna mengiringi petikan jarimu. Menambah makna suara temanku yang lain. Kesatuan melodi yang tak terpisahkan begitu syahdu kami dengarkan. Kami paham meski di otakmu ada putaran permasalahan lain yang menjadi beban. Namun masih kau luangkan menghibur kami menemani menunggu panggilan meski kau sudah terpanggil. Menghanyutkan emosi membangkitkan asa. Begitu mulia sifat yang kau miliki. Seakan bangunan kayu berteriak setuju dengan pendapatku kala itu.

Kecil mungil tubuhmu disela tubuh-tubuh besar teman-teman. Sering kali menggerakkan tangan membetulkan posisi kacamata yang setia menemani matamu. Tak pernah lepas dari jepitan telinga yang tersembunyi di balik jilbabmu. Buku panduan edisi terbaru tak pernah lepas dari matamu. Cahaya 5 watt membantumu untuk memahami isi buku yang seminggu ini menjadi bacaan favorit bagi rekan-rekanku unik kuperhatikan. Jaket merah berbulu membantu melindungi diri dari dingin malam itu. Celana hitam elvis (elvi sukaisi) kami menyebutnya senantiasa menutupi auratmu. Pembenaran yang kau ucapkan ketika kami sering menyindir celana idolamu. Begitu bersemangat ikut mengalunkan lagu-lagu iwan fals yang dimainkan rekan-rekan. Kami tahu iwan fals adalah idolamu. Kaset-kasetnya pun kamu punya koleksi. Sering gagap saat berbicara di depan forum. Namun keberanianmu begitu membuatku iri. Kau ikuti dan selesaikan sampai tuntas saat forum-forum dan saya tahu itu adalah masa-masa paling menakutkan bagimu karena gagapmu. Sesekali kakinya sering bergerak untuk mengusir nyamuk yang mencoba hinggap di kakimu. Bangunan kayu seakan memahami kelemahanmu. Bangunan kayu paham dan tahu bahwa tugas kuliah menumpuk apalagi kamu 2 tahun lebih dahulu di brawijaya. Bangunan kayu juga terharu dengan keberanian dan antusiamu menunggu panggilan.

Tubuh kurus tinggi. Kerutan dahi. Tahi lalat tak pernah lepas dari ujung hidungmu selalu kau pegangi sebagai ekspresi ada beban pikiran. Wajahmu terpancar kegelisahan. Menurut kabar ada saudara datang. Buku panduan itu selalu dibolak-balik isinya. Namun susah untuk konsentrasi. Tas coklat rajutan dari benang kau sambar begitu cepat dari sampingmu untuk menutupi telapak dan ujung kaki yang mulai ada gangguan gigitan nyamuk atau mungkin sekalian mengusir hawa dingin. Sambil sesekali menarik-narik ujung jilbab merapikannya. Bangunan kayu sepertinya memahmi kegelisahan temanku ini. Waktu untuk saudara kau tinggalkan bersama kakakmu di kamar kos meskipun sudah ijin untuk malam ini tidak bisa menemaninya. Bangunan kayu paham terpancar dari cahaya remang 5 watt bahwa kau datang untuk menunggu panggilan.

Kadang tertawa bercanda dengan teman lain. Kadang terlihat matamu menerawang mencoba menembus kegelapan di ujung lapangan voli. Kepala terkadang mengangguk-angguk mengikuti irama lagu yang dimainkan teman. Ujung rambutmu jambul kami menyebutnya ikut terangguk-angguk. Logat kulonan terasa khas pati saat bicara meski lirih kalah oleh suara teman yang bernyanyi. Kalau gak salah dia coba memberikan semangat kepada teman yang menunggu panggilan. Meski malam larut rumah kos-kosan sudah dikunci namun setia menemani kami. Begitu indah kesetiakawanan dan rasa persaudaraan yang diberikan itu yang bangunan kayu ungkapkan.

Dari balik tanaman menjalar muncul baru datang. Pelan-pelan wajahnya mulai tampak oleh sinar cahaya 5 watt. Wajah itu mengingatkan kami di merubetiri saat dia memakai ponco jas hujan diikat dengan sabuk yang tentara sering gunakan. Wajah itu mengingatkan tokoh film young guns. Mengeluarkan sebungkus rokok habis dari kampung sebelah kampus. Naik ke papan duduk di sebelah teman pemetik gitar. Kemudian mengamati wajah kami satu persatu. Rambutnya sudah mulai sebahu disisir pakai tangan. Tangan yang satu mengambil karet di saku celana untuk pengikat rambut. Nah sedikit rapi mungkin dalam hatinya. Bangunan kayu memberikan tempat dan mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung dengan teman.

Ruangan sebelah pramuka pintu terbuka. Keluar teman berjalan menuju bangunan kayu tempat teman berkumpul menunggu. Matanya yang agak sipit semakin sempit ketika tiba-tiba setelah dihadapan kami dia mengumpat “… tak bunuh … tak bunuh …”. Lucu kuperhatikan teman ini. Mengumpat sambil cekikikan tertawa. Memang kata-kata itulah yang sering di lontarkan apabila ada teman yang menggodanya. Ceplas ceplos langsung keluar cerita pengalaman di dalam saat panggilan tiba. Sesekali umpatan tak bunuh keluar lagi. Unik temanku ini. Dia keluarkan jaket almamater fakultas dari tas. Naik ke papan lebur meramaikan suasana menjadi ceria dengan kelucuannya. Sharing bagi cerita duka suka dan pengalaman bangunan kayu setia mendengarkan.

Sementara aku duduk paling pojok sebelah barat teman yang tidur. Hanya duduk memperhatikan teman ingin menjadi bagian dari mereka. Begitu besar motivasi teman-temanku hingga bisa bertahan. Suatu hal yang menjadi dasar bagi teman-temanku bisa bertahan survive. Sehingga edan rasanya sampai mengenyampingkan kepentingan lain. Pengorbanan untuk mencapai tujuan. Sharing saling berbagi suka duka hingga memperkuat persaudaraan. Modal dasar yang berarti dalam mencari cakrawala khasanah wawasan mengasah kemampuan. Karunia terindah yang membuatku ingin seperti mereka temanku … sahabatku … saudaraku.

Sepertinya namaku dipanggil. Kucoba berdiri melangkah turun namun kepalaku terbentur sesuatu. Teman-teman memberikan semangat menjabat tanganku seakan mengantarkanku ke ruangan wawancara. Rasa persaudaraan yang kuat. Kuberjalan menjauh dari bangunan kayu meski bisu namun aku tahu kamu ikhlas memberikan tempat bagiku untuk merenung. Terimakasih bangunan kayu meski kepalaku terbentur papan namamu. pondok ijou.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://kosong.blogsome.com/2005/03/23/pondok-ijou/trackback/

  1. kembali teringat dg el 300 rektorat malam-malam mengangkut balok2 kayu dari hamidrusdi. tinggal sejengkal ujung balok menyentuh kaca depan. maka mobil berjalan pelan dan superhati2, sementara tangan erat memegangi sambil hati dagdigdug berkali-kali. sebuah gergaji oglek, golok majal dan pahat tumpul mungkin bkn lawan sepadan balok kamper. tp kengeyelan pantang menyerah mampu menyelesaikan. hari2 panjang, 2 minggu, berkutat dengan itu. hingga telapak kapalan dan pegal lengan tak lagi terasakan. ketika bentuk menjadi, dgn komando holopis kuntul baris pondok diangkat ke tapak. ada lega, meski kerja belum selesai. atap msh menganga, kulit belum tersaput… tapi kebersamaan telah menyelesaikannya. semua telah terkubur oleh lapuk dan rayap yang rakus. tp tidak di jiwa ini, hati ini.

    Comment by rhay — August 27, 2005 @ 05:32

  2. saat itu belum genap 3 bulan umurku di bumi orange ... saat kupandang pondok itu seketika aura kekeluargaan memasuki tubuhku. terimakasih abi rhay ikhlas tanganmu telah membantu kami saat membangun pondok ijou.

    Comment by roim — August 27, 2005 @ 06:04

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>