March 31, 2005

Peggy Ibu Kami

peggy

violet menggantikan gelap dengan bintang yang mulai hilang … violet dengan sedikit semburan merah diantara mega awan … garis hitam tipis di batas cakrawala fajar sedikit mulai terpancar … angin pagi sejuk menerpa wajah menyejukkan jiwa … warna violet fajar menyimpulkan senyum mengucapkan selamat pagi

saat nafas kami terasa berat dan sulit membuka kelopak mata di pagi hari, ibu peggy jiwamu menghembuskan sentuhan semangat baru kepada kami untuk mengatakan kepada dunia bahwa hidup tidak berhenti disini.

saat fajar dengan cahaya keputihan di bawah warna merah mulai menyapa … setiap hari bunga tertanam dengan rapi … menunggu sentuhan halus dan hangat sinar matahari … kelak saatnya tiba bunga itu mekar memancarkan warna indah dan semerbak bau harum … (more…)

March 30, 2005

8.7 Tengah Malam

Seperti biasa malam itu tanggal 28 Maret 2005 kami mengisi waktu ke warung kopi yang berada 100 meter dari posko kami di Jl. Teuku Umar 31 Seutui Banda Aceh. Mungkin sudah rutinitas kami bila malam hari belum tidur pergi ke warung kopi “pak item” tetangga kami. Namun hari itu lain dari biasanya, karena hampir dari keseluruhan anggota tim yang ada di posko belum tidur termasuk ibu peggy. Sekitar pukul 23.00 malam waktu setempat kami pergi ke warung kopi menyusul rekan-rekan yang sudah pergi sebelumnya.

Beberapa teman memesan minuman dan beli rokok sambil mengambil tempat duduk dan merubah layout meja karena 1 meja sebelumnya sudah tidak menampung dengan kedatangan kami. Kurang lebih 20 menit kemudian pesanan jeruk nipis saya baru datang, sedangkan pesanan teman-teman yang lain sudah diantar sebelumnya. Baru dua kali mencicipi hidangan jeruk nipis tiba-tiba getaran akibat gempa sedikit saya rasakan, dan kebetulan beberapa orang diseberang meja kami juga merasakan hal yang sama. Memang sudah beberapa kali kami merasakan gempa selama berada di banda aceh, namun untuk yang kali ini berbeda sekali, awalnya gempa kecil kemudian beberapa saat getaran gempa terasa semakin membesar. (more…)

March 25, 2005

Kapal PLTD Apung I

PLTD Apung I

Sore itu jingga senja tidak juga muncul menjadi background. Mendung masih menggelantung karena hujan telah turun sesaat tadi. Namun keinginan untuk pergi keluar dari posko airputih sangat kuat meski cuaca kurang mendukung untuk hunting foto. Setelah beberapa target kerja telah selesai dan untuk mengisi waktu kuajak salah satu rekan di airputih untuk menemani hunting. Dengan menggunakan sepeda motor Suzuki Smash warna merah kami berdua pergi ke arah tempat terdamparnya Kapal PLTD Apung I. Berita mengenai terdamparnya kapal ukuran jumbo ini sangat ramai bahkan beberapa media massa telah menerbitkan mengenai berita ini. Sehingga sangat menarik einginan untuk mendatangi lokasi tersebut.

Sebetulnya lokasi terdamparnya kapal ini tidak jauh kira-kira 300 meter sebelah barat dari posko kami. Kapal ini terdampar di atas bekas perkampungan yang musnah diterjang gelombang tsunami 26 Desember 2004 kemarin, tepatnya di kampung Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru – Banda Aceh. Kapal ini merupakan batas dimana kapal ini ke utara (ke arah pelabuhan Ulee Lheue) merupakan pemukiman yang hancur dan kapal ini ke arah selatan merupakan pemukiman yang bangunannya masih berdiri meski air gelombang juga masuk ke daerah ini. (more…)

March 23, 2005

Cuci dengan Hati

Udara kering mudah bagi angin untuk melemparkan debu. Lapangan itu tak lagi berwarna hijau karena rumput-rumput liar yang selalu tumbuh jika musim hujan. Hanya warna tanah kering diselimuti debu yang dihempas angin. Enam perempuan, dua berjilbab di depan tampak terburu, empat di belakang berjalan beriring. Dari timur dua kelompok pejalan ini saling diam karena tak mengenal. Lucu semuanya menutupi wajah dengan buku dan tas. Baru kusadar apa yang mereka lakukan untuk mencegah debu yang terbang. Lapangan itu tak pernah sepi bagi pejalan sebagai lintasan menuntut ilmu bekal menyongsong esok. Ujung selatan lapangan pohon trembesi kokoh dahannya panjang memberikan keteduhan bagi pejalan. Trembesi itu seperti tersenyum mengundang mempersilahkan pejalan lewat memberikan kepastian rasa teduh dan aman.

Kembali kukaitkan webbing di salah satu penyokong bangunan kayu. Rangkaian webbing terikat jadi satu tampak indah karena beragam warna ikut menghiasi bangunan kayu. Ujung yang lain kukaitkan pada penyokong lain bangunan kayu. Tubuhku kemarin telah kau pegang erat sehingga tak jatuh batinku. Temanku datang membawa satu pasang helm putih sambil mengibas membuang sisa air. Untung kupakai dengan benar helm ini saat jalan merangkak terbentur plafon gua cerita teman sambil mengulurkan satu helm padaku. Putih helm itu banyak goresan sebanyak kepala yang telah kau lindungi. Kukaitkan pada kayu bawah atap bangunan kayu. Sebelah barat bangunan dua temanku sibuk berputar mengelilingi dua pohon besar. Tali itu meliliti dua pohon besar mengikuti arah dua temanku. (more…)

Pondok Ijou

Bangunan kayu di bawah rimbun pohon-pohon. Semak belukar tumbuh panjang kelihatan tak terurus, beberapa kantong plastik terlihat berserakan dibawah bangunan. Lampu 5 watt cahaya kuning redupnya memberikan kami semangat dalam tengah malam. Angin berhembus dari arah selatan menggerakkan rambut yang mulai memanjang. Memang tanpa disadari ada kesepakatan bahwa rambut kaum adam harus dibiarkan memanjang diantara kami. Tengah malam dingin semakin terasa menusuk tulang oleh hempasan angin malam. Gerakan-gerakan tangan memukul tubuh untuk mengusir nyamuk yang beberapa kali hinggap mencari daerah panas merah untuk menyambung hidupnya. Sering pula dengan menggerakkan bagian tubuh terutama kaki untuk membantu mengusir nyamuk.

Nyamuk … kadang kala teman untuk mengusir rasa kantuk. Tapi tidak untuk satu temanku, dia begitu baik hati darahnya diberikan dengan ikhlas untuk nyamuk-nyamuk itu. Rambut yang nanggung kumal mungkin seminggu belum sempat dibersihkan dengan shampoo. Kaos lengan panjang abu-abu bergambar salah satu acara maba MIPA 1997 kelihatan bersih namun kotor di bagian lengan dan belakang punggunggunya. Celana lapangan alpina krem tampak sedikit terbuka resleting depan, mungkin karena capek sehingga tidak terlalu diperhatikan. Nafasnya yang teratur dan berirama terlihat dadanya yang naik turun seirama dengan suara halus dari hidung dan mulutnya, sungging senyummu seperti dipaksakan karena untuk menutup rapat bagian mulutnya. Namun ekspresi keseluruhan wajahnya tampak sedang mensyukuri alunan tengah malam saat itu untuk tidur. Iri kumelihatnya. Istirahatmu di papan ujung bangunan kayu sebelah selatan samping lapangan bola. Istirahatlah sejenak teman sambil menunggu panggilan, semoga Tuhan selalu melindungimu seperti bangunan ini melindungi dan memberikan tempat istirahat sejenak bagimu kukatakan dalam hati sambil mengambil nafas dalam-dalam dan mengeleuarkannya pelan-pelan seiring membuang kepenatan. (more…)